Jinak-Jinak Merpati


Jinak-Jinak Merpati

Ungkapan itu, kalau saya tak salah ingat, dimaksudkan untuk melukiskan karakter seseorang yang lembut, kalem, jinak, mudah didekati tapi sekaligus sensitif, akan menjauh bahkan akan berbahaya jika sedikit saja hatinya dilukai. Kemudian ungkapan ini menyempit maknanya menjadi ungkapan yang sangat berkarakter feminin dan penuh bias jender. Maksudnya ia hanya diterapkan pada pribadi perempuan dan tentu saja tidak merepresentasikan seluruh perempuan. Jika kembali pada makna asalnya, ungkapan ini paling kurang adalah sebuah aspirasi tentang relasi dua arah yang ideal tapi juga menunjukkan masalahnya jika relasi itu terlalu sarat dengan kepentingan dan kuasa.
Setahun silam waktu mampir di Roma saya sering menyaksikan para wisatawan yang mengundang kawanan merpati dengan melemparkan remah-remah atau biji-bijian. Burung-burung itu mudah sekali mendekati bahkan hinggap dan bermain-main di atas pundak dan kepala. Ada juga yang coba-coba menangkap, tapi tak satupun yang berhasil...Mungkin, merpati punya kemampun membaca tidak saja gerak tangan orang yang mau menangkapnya, tapi juga isi hati. Merpati seaakan tak mau lebih dekat pada orang yang melemparkan makanan dengan maksud menangkapnya. Merpati hanya mau mendekat hanya jika kita mengundangnya tanpa syarat...Mungkin itulah sebabnya kenapa Yesus menggambarkan ketulusan hati seorang murid sebagai ketulusan seekor merpati.
Ingatan akan merpati ini membantu saya menemukan di mana letak hubungan kita dengan Roh Kudus yang kita rayakan pada Hari Pentakosta. Sebab Roh Kudus yang dijanjikan Yesus itu sering digambarkan seperti merpati. Merpati dalam tradisi kitab suci adalah binatang suci. Ingat bagaimana kisah Yesus waktu dibabtis Yohanes pembabtis (injil Markus 1). Ingat pula kisah Nuh yang mengirim seekor merpati pasca air bah. Merpati itu identik dengan kehidupan, berarti ciptaan baru. Yang baru, selalu tulus, tak bercacat dan menandakan kehidupan, sebagaimana merpati yang dikirim Nuh kembali dengan membawa ranting pohon segar, tanda adanya kehidupan setelah bencana.
Sebagai tanda, merpati jelas menunjukkan realitas ‘yang lain’ dari dirinya, yakni Roh Kudus, yang hanya mungkin mendekati diri kita jika kita ‘terbuka’. Ini jawaban untuk pertanyaan, « mungkinkah kita bisa menikmati buah Roh Kudus, buah pentakosta seperti yang dialami para murid ? » Ibarat sebuah botol penuh yang tak mungkin diisi lagi oleh air, demikianlah hati kita, jika kita tidak terbuka, tidak membebaskan hati dan pikiran kita dari logika ‘kuasa’ seperti para wisatawan yang coba menangkap merpati. Logika ini tak lain dalam bahasa St. Paulus adalah pertimbangan daging atau nafsu. Nafsu itu saudara kandung kuasa. Iri hati, cemburu, kemarahan, percecokan, persaingan adalah anak-anaknya.
Merpati, di pihak lain menjadi cakrawala, cermin yang meminta kita berdandan dan berlaku seperti burung itu sendiri, yakni tulus. Tulus adalah nama lain kerendahan hati dan keterbukaan untuk dicintai, seperti merpati yang dengan tulus juga mendekati setiap orang yang mencintainya, yang memberinya makan...Kalau anda mendapati diri anda kurang sabar dalam berelasi, cepat marah misalnya, mintalah dengan rendah hati pada Roh Kudus rahmat kesabaran. Kalau hari terlalu sedih dilewati karena kehilangan seseorang atau sesuatu yang disayangi, mintalah rahmat sukacita. Kalau kita tidak bisa menguasai diri dari kecenderungan-kecenderungan tak teratur dan merusak, mintalah rahmat penguasaan diri. Paulus dalam surat kepada umat di Galatia menganjurkan itu (Gal.5:16-25). Permintaan-permintaan itu didorong oleh ketulusan hati, yang dengan rendah hati mengakui kelemahan dan pada saat yang sama mengharapkan pertolongan Roh Kudus. Orang sakit yang ingin sembuh harus menunjuk dan menjelaskan pada dokter semua gejala dan di mana letak penyakitnya.
Misteri cinta Yesus tersalib membebaskan kita dari kejahatan dan dosa. Akan tetapi, perang antara terang dan kegelapan terus berlangsung di hati kita masing-masing, di mana kecenderungan daging dan kecenderungan roh saling bersaing menempati hati kita. Itulah sebabnya, kenapa Yesus menjanjikan dan akhirnya mengaruniakan kita Roh Kudusnya. Dia adalah penolong, yang memperlengkapi hati kita dengan senjata yang mumpuni, yang menolong kita mengambil keputusan yang tepat, aman dan bebas seperti merpati.
Sore ini saat melengkapi tulisan ini, saya didatangi seorang bapak, yang mengaku dirampok. Yang tertinggal padanya hanya handphone dan kunci rumah. Ia datang dari Bafia, sebuah provinsi di luar kota Yaoundé. Antara prasangka bahwa bapa ini datang menipu dan perasaan kasihan, saya dan seorang konfrater Meksiko akhirnya memutuskan menolong bapa tua ini kembali ke rumahnya. Ini hadiah indah di pentakosta kali ini, dan betapa bersama H. Capieu saya melagukan ini,

o toi colombe, o blanche soie, (oh merpati putihku)
aube première et première beauté (jadilah bagiku fajar dan keindahan baru)
ton aile avive un feu de joie (biarlah sayapmu menyalakan api sukacita)
où ta venue nous a jetés (saat kau datang melemparkan aku ke dalamnya)
(H. Capieu, « pentecôte, dalam Poésie 54, juillet-aout 1978)

Dan untuk anda dari jauh saya mendoakannya. Selamat menikmati buah-buah roh.

ronald,sx -Yaoundé Cameroun


Perempuan Bunga dan Kearifan Cinta

Femme-fleur, perempuan bunga, yang dilukis Picasso pada tahun 1946 adalah salah satu adikarya pelukis besar Spanyol ini, buah kolaborasinya dengan seorang seniman perempuan cantik perancis, Françoise Gilot, Lukisan itu bercerita sekaligus menyembunyikan misteri hubungan Picasso dan Françoise.Kita bisa menemukan jejak hubungan ‘dekat’ kedua seniman ini, selebihnya hanya mereka yang tahu. Bunga adalah tumbuhan yang paling banyak menjadi kalau bukan inspirasi, toh bagian penting dari karya seorang seniman, penyair, sineas dan seterusnya.
Bahkan bunga dekat dengan perempuan, berkarakter feminim, bahkan bagian dari kepribadiannya. Dan akhirnya kita mengerti, kenapa pria seperti harus selalu memberi bunga pada kekasihnya. Kita juga mengerti kenapa perempuan tak pernah menolak ketika diberi bunga. Bunga lantas seperti benang, ketika kita memberikannya kepada orang yang kita kasihi, kepadanya kedua tangan kita berpaut. Bunga rupanya tak hanya berarti ‘ perempuan’ tapi lebih-lebih ‘hubungan’. Perempuan tanpa mengatakan apa-apa, dengan menerima bunga yang diberikannya, meneguhkan bahwa ia seperti kembang, yang wangi, yang mekar, indah dan memberi kehidupan. Dan pria yang memberikannya, tanpa mengatakan apa-apa, mau menyatakan dirinya sebagai tanah yang siap menyambut bunga itu hidup di atasnya. Bunga seperti mewakili dan menjembatani komunikasi ‘bawah sadar’ ini. Bawah sadar, karena kita tidak pernah mengatakannya, tapi kita akui, kita masing-masing membutuhkan dan mengambil peran yang beda. Dan dunia itu adil. Harus selalu ada bunga dan tanah. Ada pohon dan binatang, ada aneka ciptaan. Lucu jika semuanya seragam.
Entah mawar, entah anggrek dan bunga lainnya tidak mungkin menjadi mawar, anggrek kalau mereka tidak dipetik. Toh kalau kita tidak memetiknya, dia gugur sendiri karena menua lalu diganti dengan kuntum bunga lainnya. Bunga yang satu dengan bunga yang lain seperti, bagi saya, menjalin hubungan unik ini : yang satu merelakan diri untuk dipetik atau jatuh gugur agar yang lain bisa muncul. Ada kurban, ada kerendahan hati, ada cinta. Dan ratusan bunga yang sering kali kita petik acuh tak acuh, dan kita berikan begitu saja karena kebiasaan sering lenyap bersama lenyapnya kepekaan kita akan dalamnya makna yang mau disampaikan bunga untuk kita, dan dalamnya arti cinta yang pantas terus kita wariskan di muka bumi.
Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk saudara-saudara-Nya. Cintailah satu sama lain, seperti aku telah mengasihi kamu (Yoh. 15:12). Inilah kata Yesus yang paling ‘mengangu’ sejarah kita, karena kasih yang diajarkan-Nya melampaui mutualisme, bahkan filantropisme dalam evolusi kebudayaan kita. Tuhan mendasarkan perintahnya untuk mencintai bukan pada mutualisme, bukan pada kemampuan filantropi kita, sebab cinta yang demikian malah bisa menjadi berhala atau idola baru. Hari-hari ini orang berdiskusi tentang filantropikapitalisme, kapitalisme baru yang dimainkan para miliuner dan jawara bisnis, yang bagi-bagi duit di negara miskin lewat bantuan kemanusiaan yang sekaligus menjadi desempatan marketing dan publisitas. Di situ nampak ada ‘cinta’, dalam tindakan memberi kepunyaannya untuk yang lain, tapi tentu kita melihat juga amat terangnya mutualisme. Dan tak ada isme yang tanpa syarat.
Alasan kita orang Kristiani untuk mencintai amat lain. “Hendaklah kalian mengasihi satu sama lain, sebagaimana Aku telah mengasihi kamu.”Kita mencintai sesama karena kita sudah terlebih dahulu dicintai-Nya. Tuhan itu sendirilah yang menjadi alasan kita untuk mencintai. Persis di sinilah kita dijauhkan dari kecenderungan menjadikan cinta itu berhala dari kepentingan kita. Tak bosan-bosannya hati nurani kita diminta untuk selalu melakukan perintah ini meski seringkali orang kepada siapa cinta itu dialamatkan mengacuhkan kita, mencurigai maksud baik kita atau telah menghianati kita, meski hati kita –seperti kata Melly Goeslaw dalam suara hati seorang kekasih- rasanya tak bisa dihibur oleh seribu musim karena marah. Kita mesti tetap melakukannya justru dengan keyakinan ini, bahwa penghianatan, sakit hati, kata-kata kasar dan perlakuan buruk orang tidak pernah sebanding besarnya dengan cinta yang Tuhan berikan pada kita. Di situlah hidup kita sungguh berarti, di situlah kita sungguh mewarisi kearifan kehidupan yang juga diajarkan bunga. Suatu kali Yesus pernah bilang: Salomo dalam segala keagungannya, tidak pernah berdandan seindah bunga-bunga bakung di padang. Jadilah terus kembang yang tak berhenti memberi keharuman bagi dunia, dan mengajarkannya pada anak cucu kita.

Ronald,sx
Yaoundé-Cameroun


Yang Penting Rasanya Bung: Soal Kematangan Pribadi Kita...
Meski pekarangan rumah kami tidak begitu besar, ibu saya menanam beberapa pohon kopi untuk konsumsi sendiri. Suatu kali saya melihat beliau memungut beberapa biji kopi yang jatuh, membersihkan, bahkan menciumnya sebelum mengembalikannya ke tungku di mana biji kopi itu ditumbuk menjadi bubuk kopi. Saya bisa mengerti tindakan ibu saya ini, apalagi mengingat bahwa dia merawat tanaman kopi ini dengan tekun. Saya harus akui juga bahwa dia tidak hanya menanam, memetik, tapi juga membentuk relasi yang unik dengan-nya. Antara kopi buatan sendiri dan kopi instan, menurutnya, perbedaannya besar sekali. Kopi asli aroma lebih harum dan rasanya lebih enak. Relasi antara pohon, cabang, ranting anggur dan bahkan pemilik anggur itu sendiri,dipakai Yesus untuk menggambarkan hubungannya dengan para murid atau orang-orang yang percaya pada-Nya. Perumpamaan ini disampaikan Yesus pada para muridnya menjelang perpisahannya dengan para murid dan perpisahan itu – yang juga disadari oleh para murid- melahirkan pertanyaan serius tentang kontinuitas, atau kelanjutan relasi itu pun bahkan ketika Yesus tidak lagi bersama mereka. Yesus merumuskan relasi-Nya dengan para murid dan mereka yang percaya pada-Nya sebagai hubungan antara pokok anggur dan ranting-ranting-Nya. “Sama seperti ranting tidak akan menghasilkan buah jika ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikianpun kamu, jika kamu tidak tinggal padaku kamu tidak akan menghasilkan buah”.
Tinggal yang dimaksudkan Yesus tidak sama artinya dengan bersarang/nesting, atau hidup seperti parasit dengan ketergantungan pasif. Tinggal pada Yesus berarti menyatu dengan-Nya sama seperti ranting menyatu pada pohon. Tinggal padanya tidak lain percaya pada-Nya, seperti ranting yang tidak pernah ragu bahwa pokok anggur selalu berpaut padanya dan memberinya kehidupan. Percaya pada cinta-Nya yang menghidupkan, pun ketika Dia tidak lagi bersama kita. Yesus mau menjamin para murid bahwa pun ketika Dia tidak lagi bersama mereka secara fisik, Dia tetap hadir dengan cara yang lain.
Saya selalu membayangkan bahwa buah selalu mengandung, selalu membawa dalam dirinya kualitas, sifat dari pohonnya walaupun kita sering kita tidak pernah lagi memikirkan hubungan buah-buah itu dengan pohonnya ketika kita memakannya. Waktu kita makan apel atau anggur, kita jarang langsung membayangkan pada saat yang sama, pohon-pohonya. Dari biji-bijian buah itu kita bisa mengembangbiakkan atau menanam lagi pohon untuk menghasilkan buah yang sama. Yesus menjamin kehadiran-nYa yang stabil dan konstan dengan dan melalui Ekaristi, di mana kita merenungkan dan merayakan misteri cinta-Nya yang abadi.
Lukisan abad 17 yang saya sediakan untuk anda dalam tulisan ini, la fontaine de vie, atau mata air kehidupan, dilukis seorang flamandia anonim nampaknya pas untuk menjelaskan lebih lanjut maksud saya tadi. Dalam lukisan ini, darah tercurah dari lambung ke dalam wadah berisi buah anggur. Lukisan ini tentu menjelaskan misteri salib dalam ekaristi yang kita sambut. Dalam ekaristi kita menerima kehidupan yang dicurahkan Kristus lewat kematian-Nya di salib. Salib di rumah kita, yang kita pakai atau sebagai tanda yang kerap kali kita gunakan untuk berdoa mengingatkan kita akan pokok anggur, yakni Yesus dalam ekaristi.
Tinggal pada Yesus bukanlah sebuah ketergantungan pasif, melainkan akfif. Tinggal padanya berarti ambil bagian dalam misteri salib-Nya sebab kristus tersalib itu adalah pohon kehidupan yang benar, sumber dan jawaban terbaik bagi masalah hidup kita. Salib bukan hanya simbol tapi sebuah prinsip hidup Kristiani yakni cinta yang penuh kerja keras dan pengorbanan, yang sabar, yang murah hati, dan memberi diri tanpa syarat. Inilah makanan rohani yang membuat kita matang sebagai manusia.
Matang Karbitan?
Kita seringkali mendapati diri kita mencari keadaan matang yang berbeda dari yang ditawarkan Kristus, atau mencari kematangan pada sumber lain seperti ranting yang terperangkap dalam kepungan parasit. Atau kita membiarkan diri dipetik orang lain sebelum waktunya, untuk kemudian diperam dan dijual (dan setelah dimakan, kemudian dibuang ke sampah). Kematangan ini termanifestasi misalnya dalam ketergantungan baru yang saya sebut sebagai ketergantungan teknologi. Kita sulit menolak menjawab panggilan hp pun ketika kita sedang bicara serius dengan seseorang atau dengan kelompok orang. Teknologi dan ketergantungan kita padanya menginterupsi kehangatan hubungan kita. Kita didikte oleh sifat teknologi yang serba cepat: mesti cepat dijawab, mesti cepat ngikuti model barang ini barang itu, dan seterusnya sementara pelan-pelan tak terasa mutu relasi kita dengan orang lain mulai kendur. Ketergantungan pada chatting pada jam kerja pelan-pelan merusak perhatian dan mutu kerja anda. Rasanya kisah ini mengajak kita merenungkan sejauh mana ketergantungan kita pada teknologi, dan sejauh mana pula waktu dan kualitas hubungan kita dengan Tuhan terpengaruh olehnya.
Seperti buah-buah yang matang karena diperam, disuntik, diawetkan, kita sering mengharapkan kematangan yang berbeda yang diharapkan Yesus. Kita menolok kerja keras, ketekunan dan kesetiaan dalam kerja atau dalam menyelesaikan persoalan rumit kita. Lebih suka kita memilih jiplak, mencari mbah dukun, atau mengorbankan waktu yang tidak semestinya kita pakai untuk menyelesaikan pekerjaan kita yang tertunda. Kita matang karbitan dan sekaligus rapuh rasa dan pelan-pelan membusuk ‘dari dalam’. Inilah ancaman yang amat dekat dengan kita sekarang ini yang sudah masuk di sekolah, tempat kerja hingga kamar dan tempat tidur intim kita. Kita dalam bahaya sedang menjadi buah yang tak lagi enak, penuh cita rasa asli bagi sesama kita. Injil hari ini mengundang kita untuk kembali pada sumber, persekutuan kita dengan Yesus yang menjadi dasar kematangan kita bagi yang lain.
Pesan kebangkitan hingga minggu ke lima masa paskah ini jelas. Yesus yang bangkit hadir melalui buah-buah manis dan indah yang kita terima malalui kesaksian Gereja dan tokoh-tokoh iman sederhana seperti ibu saya tadi. Kita dipanggil untuk tetap menjaga kualitas baik buah kehidupan ini. Kita dipanggil pada saat yang sama menjadi benih baru bagi pohon baru untuk dunia.
Yang penting rasanya Bung...!

ronald,sx

Yaoundé-Cameroun

Sentuhlah Aku

Sentuhlah Aku

Dulu gampang sekali menyelimuti seluruh badan ketika mendengar suara-suara aneh di sekitar rumah, anjing yang menyalak tidak biasanya atau bunyi burung hantu di kejauhan. Entah apa jadinya hidup, jika tanpa kisah-kisah seperti sinder bolong, kuntilanak, jin, dedemit, dan sebagainya. Apakah semuanya itu adalah mitos warisan orang-orang tua dulu untuk mendidik anak-anak mereka (agar tidak pergi jauh dari rumah misalnya) ataukah kesaksian tentang eksistensinya. Dari kampung kecil saya hingga kota-kota besar seperti Paris, Roma bahkan di negeri yang jauh seperti di Afrika sini, cerita-cerita seperti itu makin beragam. Les Diables et Les Parisien, para hantu dan penduduk kota Paris, demikian seorang penulis klasik Perancis menulis tentang Paris, kota yang kini paling sekular, menjadi besar karena ulah para setan. Saya tidak mau memperdebatkan di sini soal ada tidaknya hantu, tapi biarlah saya meninggalkan hipotesis ini :paling sedikit dengan percaya pada eksistensi hantu, orang mengandaikan adanya hidup setelah mati. Masa sih hidup yang indah ini tak ada kelanjutannya…
Papa saya meninggal waktu saya berusia 11 tahun dan saya menyaksikan sendiri penguburannya, melihat bagaimana tubuhnya ditimbun tanah merah dan selanjutnya ia menjadi lain, ia hidup tapi dalam kenangan saya sebagai anak yang dicintainya. Saya bisa mengerti pengalaman para murid Yesus, yang takut dan menyangka melihat hantu ketika Yesus menampakkan diri para mereka (Luk. 24 :35-38). Pantas mereka takut karena mereka betul-betul tahu Yesus telah mati, bahkan beberapa di antaranya melihat bagaimana Dia dikuburkan. Saya tentu akan mengalami hal yang sama seandainya melihat papa yang benar-benar saya lihat telah ditimbun tanah, muncul di dekat saya.
Kalau kita memperhatikan seluruh kisah kebangkitan, ada benang merah ini yakni Yesus tidak langsung dikenali identitasnya oleh para murid. Hanya ketika Yesus mengulang kata-kata atau membuat gerakan yang pernah Ia lakukan, dan dari pihak para rasul hanya dengan membuka hati dan iman mereka barulah mereka mengenal Yesus. Ingatlah kisah dua murid Emaus atau kisah lain ketika para murid berkumpul bersama merayakan ekaristi. Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah bagian dari hidup dan realitas baru yang sama sekali berbeda dengan realitas normal. Akses padanya mustahil kalau bukan atas inisiatif Yesus sendiri dan iman orang yang mengalaminya. Tentu saja sekali lagi kita harus mengakui pengalaman akan Yesus yang bangkit adalah pengalaman khas para murid.
Lukas dalam Injil hari ini tidak melaporkan sebuah kisah hasil imajinasi atau halunisasi para murid, tapi kisah nyata tentang Yesus. « Lihatlah tangan dan kakiku, inilah aku, sentuhlah aku. Tak mungkin hantu mempunyai daging atau tulang ». Dan Petrus kelak dalam pewartaannya selalu mengatakan « Dan kamilah saksi dari semuanya itu, Tidak mungkin kami tidak mewartakan apa yang kami lihat, kami sentuh, kami alami sendiri ». Inilah pengalaman nyata para murid yang menjadi titik tolak kelahiran Gereja.
Gereja mewartakan Kristus yang bangkit itu pertama-tama melalui Ekaristi dan melalui karya kasihnya.Ia yang hidup dan nyata itu melalui ekaristi, melalui hosti sederhana dan rapuh kita alami, tentu dalam iman. Samahalnya seorang ahli bedah berhasil memahami seluruh struktur organ tubuh pasiennya yang hidup tapi tidak pernah menemukan di mana terdapat nyawanya, demikianlah dalam ekaristi dan melalui hosti tadi kita mengalami Yesus yang hidup tanpa pernah melihat Dia. Ia hidup kini dalam diri kita yang menyambut Dia dengan iman dan sudah seharusnyalah kita mewartakan bahwa Dia hidup.
Kata-kata Yesus , sentuhlah aku adalah undangan bagi kita semua untuk meneruskan warta bahwa Yesus hidup. Tangan-tangan dan kaki kitalah yang sekarang menjadi perpanjangan tangan dan kakinya bagi manusia lain. Ibu Theresa dari Calcuta, Anne Frank yang memberi penghiburan bagi para sesama tahanan Nazi di kamp konsentrasi, serta banyak sekali saksi iman Kristiani lainnya sepanjang sejarah melakukan semuanya itu karena Yesus nyata dan supaya ia tetap nyata sepanjang masa. Mari bersama-sama menceritakan pada banyak orang melalui hidup kita, bahwa Tuhan yang dulu nyata sama nyatanya seperti sekarang ini ketika kita memuliakan yang lemah, yang miskin dan yang ditinggalkan.


KEGELAPAN DI ANTARA BINTANG-BINTANG

Minggu lalu dalam perjalanan menuju Limbe, daerah Kamerun berbahasa Inggris, mobil kami dicegat polisi persis di depan pasar yang ramai oleh lalu lalang orang. Dari pintu mobil saya berhasil mengikuti keributan kecil antara para pedagang dengan seorang ibu berpakaian necis dengan loudspeker di tangan kanan dan payung pelindung panas matahari di kiri. Tanpa malu dia berteriak, « Jesus Christ est la solution », yang disambut dengan ejekan dan tawa para pedagang. Seorang pedagang, menyangga dan minta bukti serta penjelasan lebih lanjut. Sayang sang ibu tidak dapat, dan kemudian ia dihujani permintaan banyak orang untuk pulang dan lebih baik mengurus suami dan anak-anaknya.
Benarkah Tuhan adalah jawaban? Saya percaya kita yang mengimani Yesus setuju dengan kata-kata ibu tadi. Namun kita tentu juga setuju dengan keraguan para pedagang tadi tentang isi kata-kata itu. Masalahnya lebih pada soal bagaimana kita bisa membuktikan bahwa Yesus memang adalah jawaban.
Pada minggu kedua paskah, kita mendengarkan lagi kisah kebangkitan dengan dua adegan berbeda (Yoh.20 :19-31). Pertama Yesus menampakkan diri pada para murid, kecuali Thomas yang saat itu tidak di situ. Kedua, akhirnya Dia menampakkan diri pada Thomas. Dua-duanya mau menjelaskan kebangkitan, yang berbeda satu dengan yang lain tetapi saling melengkapi. Dalam kisah pertama, kita tidak menemukan masalah. Para murid mengalami langsung perjumpaan dengan Yesus yang bangkit. Kita bagaimanapun juga harus mengakui dan menghormati pengalaman kebangkitan sebagai pengalaman khas dan personal para murid. Akan tetapi, pada kisah kedua, masalah timbul. Thomas yang tidak hadir dalam peristiwa pertama. Dia ragu dan minta bukti. «Jika saya tidak melihat dalam tangannya bekas paku, dan jika saya tidak mencucukan jariku ke bekas paku itu serta ke lambungnya, saya tidak akan percaya ».
Kita tidak bisa menyalahkan Thomas. Keraguannya sebenarnya lebih mewakili problem dari umat Kristen perdana pasca kematian sebagian besar para rasul dan saksi-saksi iman pertama. Masalahnya adalah bagaimana bisa menjelaskan kebangkitan Yesus pada orang-orang yang tidak melihat dan mengalami Yesus secara langsung seperti para murid?
Delapan hari kemudian, pada saat merayakan Ekaristi dan ketika Thomas juga hadir, Yesus menampakan diri. Pada saat itulah Thomas menyatakan pengakuan imannya, Dia percaya. “Karena kamu melihat aku, kamu percaya. Berbahagialah orang yang tidak melihat aku namun percaya”, demikian kata Yesus menyambut pengakuan iman Thomas. Kata-kata Yesus ini sebenarnya bukan ditujukan pada Thomas tapi memakai tokoh Thomas untuk dialamatkan pada umat Kristen pasca para rasul. Dalam bahasa aslinya, kata-kata Yesus ini menunjuk pada umat Kristen 30 hingga 40 tahun setelah kebangkitan Yesus. Pengakuan iman Thomas pun sebenarnya mewakili pengakuan iman umat ini dan tentu saja akhirnya mewakili seluruh generasi umat Kristiani sesudahnya.
Dalam peristiwa inilah kita menemukan penyelesaian dari problem tadi. Delapan hari, sebenarnya menunjuk pada hari minggu, hari di mana umat Kristen perdana biasa merayakan ekaristi. Dalam ekaristi, dalam pemecahan roti dan anggur di situlah umat Kristen perdana mengalami pencerahan, pengertian baru tentang kebangkitan Yesus. Yesus itu menampakan diri dalam ekaristi yang dirayakan bersama, saat mana mereka merenungkan misteri kasih Allah dalam peristiwa Yesus yang hidup dan wafat bagi mereka. Yesus menampakkan diri dalam hidup ekaristis, yakni hidup bersama yang dilanjutkan setelah ekaristi itu. Di situlah, dalam hidup bersama yang didasarkan kasih, mereka mengalami ‘penampakan’ Tuhan yang khas.
Bagaimana mungkin orang yang telah sedemikian mengasihi tanpa batas, bisa mati selamanya? Keyakinan ini diungkapkan melalui kata-kata Thomas: “Ya Tuhanku dan Allahku”. Untuk seorang Yahudi, seperti Thomas, mustahil dalam waktu beberapa detik mengakui bahwa seorang manusia adalah Allah. Tradisi monoteisme ketat Yahudi yang mendarah daging dalam diri para murid serta generasi umat Kristen-Yahudi pertama tidak mengizinkan itu. Pengakuan iman Thomas adalah pengakuan iman Gereja perdana setelah lama merenungkan dan mendalami arti kebangkitan Yesus. Hidup Gereja sendirilah yang adalah saksi dan bukti dari kebangkitan Yesus. Hidup orang-orang yang percaya pada-Nya lah yang harus menjadi saksi dan bukti penampakan Yesus pada dunia. Cinta sejati menghasilkan buah. Inilah arti kebangkitan bagi kita yang tak lagi melihat Yesus.
Kebangkitan Yesus tidak bisa secara kasat mata dialami oleh kita yang sekarang hidup lebih dari 2000 tahun sesudahnya, tapi kita alami melalui hidup Gereja yang tak henti-hentinya mewartakan damai, cinta kasih dan pengampunan. Gereja mewariskan dan menghidupi terus kata-kata Yesus ini “ Damai sertamu”. Hidup dan kesaksian Gereja itulah yang membuat pewartaan kita meyakinkan.

R.S Thomas, dalam Via Negativa menulis puisi ini (in collected poems 1945-1990, London, J.M.Dent, 1993)
,

Why no! I never thought other than
That God is that great absence
Within, the place were we go
Seeking, not in hope to
Arrive or find. He keeps the interstices
In our knowledge, the darkness between stars

Bagi kita, iman akan kebangkitan adalah seperti mencari, seeking, tanpa berharap untuk tiba dan menemukan, arrive or find dalam arti intelektual, empiris yang disertai bukti kasat mata seperti yang diminta Thomas. Bagi kita sekarang buah kebangkitan itu dengan segala misterinya adalah darkness between stars, kegelapan di antara bintang-bintang. Pandanglah bintang di langit. Lihatlah betapa bintan meski banyak tetap tidak bisa sepenuh-penuhnya memenuhi langit hingga tak ada lagi ruang gelap. Bagi saya hidup dan kesaksian iman kita bagaikan bintang yang bercahaya, yang juga mengizinkan orang lain melihat dan mengalami Tuhan, seperti mereka melihat di antara bintang yang satu dengan bintang yang lain ada kegelapan. Kegelapan adalah sesuatu yang indah untuk dinikmati justru ketika ada terang. Tuhan memang gelap, misteri tapi dia menamppakan diri melalui hidup orang-orang yang bercahaya oleh kasih.


Bukakanlah Aku Pintu-Pintu Malam

Bulan purnama dengan cahayanya yang benderang dekat sekali dengan rumah kami pada hari-hari ini. Rasanya tidak salah dalam tradisinya, Gereja menetapkan hari Paskah kurang lebih empat belas hari setelah bulan baru (yang tak nampak di langit) dan pada saat itu bulan nampak penuh (purnama). Saya tak tahu apakah anda di Indonesia melihatnya juga entah beberapa hari sebelum atau sesudah Paskah.
Kubur kosong yang didapati Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Salome adalah misteri yang kita terima dengan iman, bukan untuk dipertanyakan buktinya. Toh kubur kosong meski salah satu petunjuk tapi bukan bukti utama yang menjelaskan kebangkitan Kristus. Malaikat itu sendiri mengatakan, “Dia tidak ada di sini, dia telah bangkit. Dia telah mendahului kamu ke Galilea » (Mrk.16 :5). Menerima dengan iman, bukan berarti kita terima begitu saja apa yang dinyatakan pada kita, melainkan mempercayakan diri pada misteri yang mahaluas. Samahalnya ketika kita memandang bulan dan bintang di langit, yang dengan mata telanjang nampak tapi tidak seluruhnya kelihatan. Bahkan jika kita menggunakan teleskop sebesar apapun, alam semesta tetap misteri yang mahaluas dalam lautan bintang tak berhingga. Iman paskah adalah iman yang penuh syukur. Di hadapan kebangkitan, biarlah kita diterangi oleh misteri itu, seperti kita membiarkan diri kita diterangi bulan dan bintang.
“Pergilah dan katakanlah pada para murid dan kepada Petrus, Dia mendahului kamu ke Galilea”. Kembali ke Galilea adalah pesan utama kebangkitan menurut Injil M arkus. Kristus hidup dan sudah kembali ke Galilea. Untuk memahami misteri kebangkitan Kristus, para murid mesti kembali ke tempat di mana Yesus mewartakan Kerajaan Allah dengan menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, di mana Ia makan dengan orang berdosa dan membuktikan cinta-Nya dengan setia. Kisah kebangkitan dalam Injil Markus sebanarnya adalah puncak dari seluruh kisah Injil dengan 16 bab ini. Pendek kata, Injil Markus adalah Kisah Kebangkitan itu sendiri. Maka pesan kebangkitan jelas, kembali pada hidup Yesus yang aktual dan melanjutkan misi dan hidup Yesus. Jadi Injil markus tidak berakhir dengan kesimpulan, tapi undangan untuk melanjutkan hidup Yesus dengan mewartakan apa yang telah Ia buat.
Markus mengalamatkan pesan ini pada pembacanya di segala zaman, tak terkecuali pada kita sekarang ini. Pesan kebangkitan tidak lain adalah kembali ke Galilea kita, yakni pengalaman di saat dan di mana perkenalan dan iman akan Yesus mengubah hidup kita secara konkret. Pikirkan, temukan dan renungkan peristiwa-peristiwa di tahun ini, di mana anda mendapati diri betul-betul diubah oleh Tuhan. Kalau karena Yesus, anda mengampuni seseorang ; kalau demi Yesus anda merelakan waktumu di hari minggu untuk membantu korban banjir, dan kalau berkat Yesus kamu kamu mengalami dicintai dalam banyak hal, kembalilah, ingatlah dan syukurilah karya baik Tuhan dalam hidupmu. Bukan itu saja, wartakanlah dengan melakukan yang sama. Dengan demikian kamu melanjutkan hidup Yesus, kamu mewartakan Dia hidup. Kita tak perlu pergi jauh-jauh hingga ke Yerusalem untuk membuktikan Dia bangkit. Saya ingat apa yang dikatakan astronom Amerika Serikat, Niel Amstrong, setelah menginjakkan kakinya di bulan, berkata begini: “ « Langkah kaki seorang manusia kecil ini adalah adalah langkah raksasa bagi kemanusiaan. » Paskah mengundang kita untuk bertindak, dengan langkah dan jalan cinta sederhana, memenangkan manusia sebanyak mungkin dari ketakutan, dari kenyataan tidak dicintai, dari balas dendam, dari penyakit, dari ketidakjujuran, dari perang, dari balas dendam dan dari budaya kematian.
Pada bulan April 1848 Victor Hugo menulis syair Vini, Vidi, Vixi (dalam les contemplations, Livre IV,) yang saya yakin dekat sekali pesannya dengan kebangkitan.

Sekarang mataku setengah terbuka
Tak lagi ku mau beranjak pun ketika orang memanggilku
Hidupku penuh takjub
Seperti orang yang bangun sebelum matahari terbit dan tak bisa tidur
Saya tak pantas menjawab orang-orang yang iri hati
Tuhan, bukakanlah aku pintu-pintu malam
Agar aku pergi kepadanya dan menghilang

Saya membaca Hugo saat memandang bulan sambil memikirkan jutaan bintang di sekelilingnya. Anda tahu, sebagaimana bintang yang mati akan meledak dan menjadi SuperNova, menghasilkan lautan bintang dan benda angkasa lainnya, demikianlah misteri Paskah. Berkat kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus bagaikan supernova kita, bintang baru yang menghasilkan cahaya tanpa henti bagi kehidupan. Mintalah pada Tuhan pada paskah kali ini, untuk membuka pintu-pintu malam bagi kita, menyaksikan keindahan cintanya dalam pengalaman hidup kita yang mungkin sering luput untuk disyukuri dan minta agar kita juga seperti Dia siap meledakkan hidup kita bagi yang lain, dalam komitmen tak tergantikan mengabdi kehidupan dan melawan budaya kematian di sekeliling kita.

Selamat Pesta Paskah,

Ronald,SX


Perpisahan yang Elegik?

Francis James, seorang penyair Perancis pada September 1898 menulis begini di akhir syairnya tentang perpisahan (Le Deuil de Primevères)

Si tu le sais, amie, arrive et dis-le moi, dis moi pourquoi,
Lorsque je suis souffrant, il semble que les arbres comme moi soient malades
Est-ce qu’ils mourront aussi en même temps que moi ?
Est-ce que le ciel mourra ? Est-ce que tu mourras ?

Jika kau tahu, sahabat, mari dan katakan pada ku, katakan kenapa
Ketika aku menderita, pohon-pohon ini nampak seperti aku, menjadi sakit
Apakah mereka akan mati pada waktu yang sama denganku ?
Apakah langit akan mati ? Apakah Engkau akan mati juga ?

Kita hanya bisa bicara tentang perpisahan hanya dalam konteks cinta. Di luar itu, lebih tepat berbicara tentang putusnya hubungan, pemutusan, penolakan hingga terusirnya seseorang dari orang-orang dekatnya. Dalam perpisahan, kita maupun orang yang kita cintai tidak menghendaki perpisahan itu tapi sekaligus tidak dapat pula mencegahnya. Di situ kita menemukan keutamaan cinta dalam tegangannya yang indah, memiliki dan melepaskan, merengkuh dan merelakan. Yang harus pergi, dalam segala perasaannya untuk tinggal harus merelakan semua yang ia harapkan tetap tinggal bersamanya. Dan yang ditinggal pergi, dalam segala ketidakrelaan untuk melepaspergikan dia yang harus pergi, mesti membiarkan dia pergi, dan dalam segala keiginan untuk pergi bersama harus memutuskan tetap tinggal.
Perpisahan beda dengan pergi sebentar, karena ia mengandung kemungkinan yang kecil untuk kembali. Sering bahkan, perpisahan itu sudah merupakan bagian dari kematian itu sendiri. Demikian lalu kita mengerti kenapa orang Perancis bilang Adieu, dan orang Spanyol bilang Adios, sampai jumpa pada Tuhan.
Dalam remang-remang lampu saya bisa membayangkan wajah-wajah sedih para rasul, dan tentu saja Yesus yang harus menyelesaikan tugasnya. Perasaan-perasaan mereka, bayangkanlah juga! Kita bisa menemukan juga tegangan indah hubungan cinta mereka dalam dua dialog Yesus dan Petrus. Pertama ketika dia mau mencegah Tuhan membasuh kakinya. Kedua, ketika dia berjanji ingin pergi dan mati bersama Yesus.
Injil Yohanes pasal 13 dengan indah melaporkan peristiwa penting ini. Jika anda membaca seluruh pasal ini anda bisa menemukan bahwa kisah ini diawali dengan sebuah tindakan unik, Yesus membasuh kaki para murid dan akhir kisah ini ditandai dengan ramalan tentang Petrus yang akan menyangkal Yesus tiga kali. Kisah ini sepertinya mengantisipasi perkataan Pilatus pada Yesus segera sesudah Ia kelak disiksa dan dimahkotai duri: Lihatlah Manusia Itu. Dalam pasal tiga belas ini kita menemukan kemanusiaan dalam keadaanya yang paling rapuh sebagaimana diwakili penyangkalan Petrus dan penghianatan Yudas. Kita juga menemukan kemanusiaan yang paling murni dan sempurna, yakni dalam tindakan Yesus membasuh kaki para murid. Pendek kata, di sini kita bisa mengkontemplasikan cinta dan penyangkalannya.
Perpisahan menjadi elegik ketika kita mendapati orang yang kita cintai, ternyata mengharapkan atau menginginkan kepergian dan kematian kita, menyangkal dan menghianati kita. Lalu benar kenapa Francis James menulis pertanyaan penuh ragu tadi : Apakah mereka akan mati pada waktu yang sama denganku ? Apakah langit akan mati ? Apakah Engkau akan mati juga ? Pertanyaan-pertanyaan ini seperti mengulangi dialog Yesus dengan Petrus, dan sekarang dialamatkan pada saya dan anda, saat kita di akhir kamis Putih menyaksikan altar dikosongkan dan berdoa di hadapan roti ekaristi.
Justru karena sadar bahwa kita selalu tergoda untuk meninggalkan dan menghianatiNya, Ia meninggalkan ekaristi sebagai warisan yang menguatkan kita untuk setia, untuk sungguh-sungguh pergi dan mati bersama Dia. « Lakukanlah ini sebagai kenangan akan daku », demikian kata Yesus. Warisan yang Dia tinggalkan bukan untuk disimpan, tapi dilakukan.
Di perayaan kamis putih inilah Gereja mendasarkan pilihannya akan pelayanan bagi perdamaian, pengampunan dan penghormatan atas kehidupan. Di perayaan yang sama, Gereja mengajak anda untuk memperbaharui panggilan semua orang Kristiani sebagai pelayan perdamaian, pengampunan dan kehidupan. Inilah yang mesti kita minta secara khusus di hadapan sakramen mahakudus. Semoga perpisahan Yesus dengan para murid yang kita peringati tidak menjadi perpisahan yang elegik seperti dilukiskan Francis James. Selamat berjaga-jaga untuk mati bersama Dia.

Blogger Template by Blogcrowds