Hidup dan pekerjaan bagaikan dua sisi dari mata uang yang sama. Yang pertama ditopang oleh yang kedua. Sebaliknya yang kedua dimungkinkan yang pertama. Pekerjaan yang saya maksud adalah semua aktivitas yang kita buat untuk menopang kebutuhan-kebutuhan dasar kita (basic needs) seperti sandang,pangan dan rumah. Kita mengorbankan banyak waktu, uang dan banyak hal lainnya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan mendatangkan penghasilan yang lumayan atau kalau bisa berlebih. Coba kalkulasikan berapa biaya yang dikeluarkan sejak kita masuk TK hingga lulus PT. Tidak hanya biaya, tenaga dan pikiran banyak kita kuras dari memelototi buku-buku mata pelajaran hingga memelototi langit-langit kamar kost kita - pikir-pikir bagaimana caranya mendapatkan duit sementara menunggu duit kiriman orangtua yang belum datang-datang juga. Ketika kita berhasil mendapatkan pekerjaan, rasanya hati plong, lega. Apalagi jika pekerjaan itu tidak saja mendatangkan uang yang banyak tapi bergengsi. Ada nilai tambah di dalamnya yakni status, dan mungkin juga popularitas. Dalam pekerjaan akhirnya diri kita seolah-olah menemukan pelabuhan yang aman. " "Beristirahatlah jiwaku padamu segala barang dan pekerjaan"
Jika kita di-PHK, misalnya karena perusahan gulung tikar, kita cemas dan bingung. Pesangon yang meskipun kadang-kadang besar, hanya menghibur kita sementara saja. Ketiadaan pekerjaan membuat hidup dan masa depan kita tidak pasti. Apalagi jika kita dipecat dari posisi atau jabatan yang cukup strategis, hidup seolah kehilangan penopangnya. Pengalaman ini tentu tidak pernah diinginkan oleh siapapun yang 'normal'; tidak ada yang mau kehilangan pekerjaannya apalagi jabatan yang strategis dan bergengsi. Bahkan, tidak sedikit dari kita yang berusaha mempertahankannya dengan banyak macam cara, dengan sikap ABS pada bos/atasan sampai nyogok sana sini. Kita tidak ingin status kita di tengah masyarakat hilang. Sikap seperti ini tidak pernah membuat kita at home dengan pekerjaan kita, bahkan seringkali kreativitas tidak berkembang baik.Lain rasanya jika kreativitas itu tumbuh dari dorongan dalam diri daripada kreativitas yang dipaksa untuk menyenangkan orang lain - dalam hal ini bos/atasan. Pekerjaan menguasai kita,dan kita tidak bahagia karenanya.
St. Yohanes Pembabtis yang kemartirannya kita peringati hari ini membantu kita untuk tetap menjaga profesionalitas dalam pekerjaan kita dengan kesetiaan pada tugas, keberanian untuk mengoreksi dan membangun perusahaan atau tempat kerja kita, dan siap kadang-kadang ambil resiko dijauhi oleh rekan-rekan bahkan dipecat atasan. Beranikah anda? Mungkin anda bisa bertanya:"lalu bagaimana masa depan saya? siapa dan apa yang bisa menjaminnya?" Jangan kuatir, percayalah pada kemampuan diri anda. Kemampuan dan ketekunan anda yang menentukan apakah anda mampu bersaing di tengah rekruitmen tenaga kerja yang baru. Dan percayalah pada sabda Tuhan ini "Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan, pakaian ataupun hiasan?" Bukankah burung di udara yang tidak menabur dan menuai selalu mendapat makanan dari Tuhan. Apalagi kita manusia dan anda yang mencintai kebenaran.
Salam,
Ronald,s.x.



Kita memperingati pesta orang besar dalam sejarah Gereja, St. Agustinus dari Hippo. Kebesaran Agustinus bukan terutama terletak pada kepandaian dan karirnya, tapi terutama karena teladan hidup yang dia tinggalkan. Dia menghidupi betul apa yang dikatakan Yesus dalam Injil hari ini " keadilan, belaskasihan dan kesetiaan lebih penting dari pada persembahan, persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan." (Matius 23:23) Kesetiaan dan kasih Agustinus pada Tuhan dibuktikannya sampai akhir hayat melalui segudang petualangan dan karya sebagai rahib, imam, pengkhotbah uskup dan akhirnya pujangga Gereja. Dia persembahakan seluruh karyanya setiap hari dalam doa yang terkenal ini:" Gelisah hatiku sebelum istirahat pada-Mu, bilakah aku akan tiba dan memandang wajah-Mu". Tuhan, bagi Agustinus, adalah daya tarik yang membahagiakan sekaligus menggelisahkan. Dia menjalani tugas dan karyanya dengan baik tapi pada saat yang sama mempercayakan pada Tuhan penyempurnaan karyanya itu. Ini sikap seorang yang rendah hati sekaligus adil. Adil karena dia memberikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan: menyempurnakan karya-karya kita.
Apakah anda punya kerinduan yang sama dengan Agustinus? Semoga kerinduan itu meneguhkan semangat anda dalam berkarya memuliakan Dia.

------
Agustinus lahir dan besar sebagai orang Katolik di Tagaste. Tapi di masa mudanya ia meninggalkan iman Kristiani dan menikah dengan seorang perempuan secara tidak sah. Setelah tinggal bersama perempuan itu beberapa tahun, mempunyai seorang anak dan aktif dalam gerakan heretik manikeisme, Agustinus pun kembali bertobat. Pertobatannya terjadi berat doa sang ibu, St. Monika dan St. Ambrosius. Ia kemudian menjual semua hartanya dan memberikannya kepada orang miskin, juga mendirikan biara. Ia berkat karya-karyanya dianugerahi gelar sebagai pujangga Gereja.


Bacaan: Matius 23:13-22 "Yesus mengecam ahli-ahli taurat" (bag.II)
Lebih dari sebulan yang lalu, ketika jalan-jalan di kota Padang-Sumatera Barat, cukup sering saya melihat banner kecil yang tertulis di belakang beberapa angkutan umum: TAAT KALAU TIDAK ADA YANG LIHAT! Anda tentu mengerti maksudnya. Di Jakarta, bukan bannernya yang sering saya lihat tapi kelakukan para pengguna jalan. Di mana-mana banyak yang tidak sabaran menanti nyala traffic light dari merah berganti hijau; sebelum hijau dan pas polisinya tidak mangkal di lampu merah, beberapa kendaraan sudah wusssss.....Banner tadi, bagi saya, adalah potret kita, potret masyarakat kita.
Injil hari ini melanjutkan litani kecaman Yesus atas sikap munafik ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Tentu tidak semua ahli taurat dan orang Farisi itu munafik, dan pasti mereka-mereka yang dikenal Yesuslah yang dikecam. Kita juga bisa keliru jika memikirkan bahwa umumnya citra ahli-ahli Taurat dan orang Farisi itu buruk. Sabda dan kecaman itu harus dibaca sebagai kecaman untuk kita.
Kemunafikan adalah sikap yang dikecam Yesus. Kecenderungan ini bisa menimpa siapa saja. Kalau diselidiki, munafik adalah bagian dari mekanisme pembelaan diri. Kita berusaha menutupi diri, sikap dan tindakan kita yang sebenarnya dengan sikap dan tindakan lain agar kita tetap diterima, diakui dan lebih lagi disanjung dan dipercaya. Di hadapan orang, kita bersikap dan bertindak sesuai yang mereka harapkan. Padahal, sebenarnya dan jika tidak ada yang memperhatikan kita, baru kita melakukan apa yang sesungguhnya kita. Kalau mau jujur, dalam skala kecil, kecenderungan ini ada pada setiap kita - dalam salah satu bagian perkembangan kepribadian kita sebagai manusia, khususnya pada perkembangan masa kanak-kanak. Maka, jika kecenderungan ini tetap main peranan dalam hidup kita saat ini, kita masih kanak-kanak. Kemunafikan sebagai sikap kanak-kanak dalam skala yang lebih besar terungkap dalam sikap Asal Babe Seneng. Kita melakukan sesuatu bukan karena sesuatu itu berguna, penting dan bermanfaat bagi kita tapi supaya atasan, pimpinan kita menerima dan menyukai kita. Kemunafikan bisa terjadi dalam dan di mana saja. Pendek kata, kemunafikan tidak pernah akan membawa kita pada relasi pribadi yang otentik, sehat dan wajar.
Pun dengan Tuhan - dan inilah yang kiranya dimaksudkan Yesus dalam kecamannya-kita tidak mungkin mengalami perjumpaan yang otentik, jika kemunafikan menjadi dasar hubungan kita; bukan cinta tapi rasa takut. Kita ingin 'membeli' perhatian, cinta dan belaskasih Tuhan dengan macam-macam cara:kesalehan, derma, sedekah, misa hari minggu, misa tiap hari, dlll tapi sebenarnya kita tidak sungguh menghendakinya. Kita takut dibilang 'ini' atau dikatain 'itu' jika kita tidak melakukannya. Kita lupa bahwa cinta dan belas kasih Tuhan itu just for free, tidak bisa dibeli. Kemunafikan akan menyulitkan Tuhan untuk mencintai kita; bukan karena Ia tidak mau, tapi karena kita tidak sepenuhnya mengizinkan Dia mengasihi kita. Bagaimana mungkin dia mengenal dan mengasihi kita jika kita menutup diri kita?
Menjadi otentik, adalah perjuangan kita hari ini dan sepanjang hidup kita supaya makin lama kita makin seperti Yesus. Menjadi seperti Dia adalah pilihan yang tidak mudah, bagaikan masuk ke pintu yang sempit. Yesus adalah pribadi yang otentik baik di hadapan manusia maupun di hadapan Bapa-Nya. Dia orang yang terus terang, tidak segan-segan mengeritik. Permusuhan dengan kaum farisi dan ahli Taurat adalah harga yang harus dibayar Yesus atas otentisitasnya itu.

Untuk direnungkan:
1. Apakah hubunganku dengan pasanganku sungguh otentik? Sampai di mana otentisitas hubungan cinta itu dapat kupertanggungjawabkan? Apa yang mendasari aku mencintai pasanganku saat ini?
2.Apakah aku juga dalam doa-doaku bisa terus terang pada Tuhan, tidak banyak bicara tapi dengan hati yang percaya pada belaskasih Allah, mengakui semua kesalahanku?
3. Apakah sebulan, setahun ini aku sudah merayakan sakramen tobat?

salam,
ronald,s.x.


Bacaan Injil "Siapa yang Diselamatkan" Lukas 13:22-30
"Berjuanglah melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu, banyak orang akan berusaha masuk, tetapi tidak akan dapat" (ay.24b). Itu jawaban Yesus atas pertanyaan seseorang yang ditemuinya dalam perjalanan menuju Yerusalem. Pertanyaan orang itu " Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?". Kalau diperhatikan kata-kata Yesus sebenarnya tidak menjawab pertanyaan orang tadi. Jawaban yagn dibutuhkan orang itu hanya sederhana: banyak atau sedikit. Itu saja.
Pertanyaan orang itu, rasa-rasanya, adalah pertanyaan dari kebanyakan kita. Bukan hanya sedikit atau banyakkah yang diselamatkan; tapi siapa sajakah yang diselamatkan? Tak sedikit juga dari kita yang terlalu percaya dan lantas terlanjur memutuskan bahwa orang yang beragama A itu kafir dan tentu tempatnya di neraka; atau yang mirip dengan itu, "agamaku paling benar dan karena itu hanya orang-orang dari agamakulah yang pantas menempati kursi di surga" Kita seolah-olah Tuhan saja. Yesus saja tidak mau tahu soal itu. Ingat bagaimana ketika ibu dari anak-anak Zebedeus mengajukan pertanyaan yang hampir serupa, tentang apakah anak-anaknya akan duduk di kiri dan kanan Yesus untuk memerintah sebagai raja? Yesus menjawab ibu itu dengan mengatakan " tentang duduk di kiri atau di kananku, itu bukan urusanku.Itu urusan Bapa". Maka, pantaslah kita sadar bahwa bukan urusan kita untuk mengetahui apalagi menentukan siapa yang diselamatkan dan siapa yang tidak. Kita tidak punya hak untuk itu kecuali Allah sendiri.
Kepada para murid yang marah dengan anak-anak Zebedus - karena pertanyaan ibu mereka tadi-Yesus malah meminta supaya mereka menjadi pelayan. Siapa yang terbesar hendaknya ia jadi pelayan. Artinya, Yesus menghendaki kita agar tidak menghabiskan waktu dan energi kita untuk menghakimi siapa yang selamat dan siapa yang bukan; tapi Ia meminta kita untuk hidup dan merayakan anugerah keselamatan yang diberikan Allah kepada kita.
Keselamatan itu adalah anugerah untuk semua. Apakah anugerah itu diterima dengan baik atau tidak, itu soal lain. Pintu surga saya kira selalu terbuka untuk kita. Pintu itu jangan dibayangkan sama seperti pintu yang kita kenal. Pintu surga adalah pintu perjumpaan yang otentik dengan Allah. Dengan melewati pintu, kita akan mengalami suasana rumah dengan segala isinya. Dengan memasuki pintu surga, kita mengalami Allah secara penuh. Pintu itu sebenarnya adalah Kristus Yesus sendiri. Hanya melalui Dia lah kita mengalami Allah. Melalui Dia berarti HIDUP SEPERTI DIA dan ini memang pilihan tersulit yang pernah ada. Mengikuti dan hidup seperti Yesus berarti menjadi pelayan, siap merelakan seluruh hidup kita bagi Allah dan cinta kepada sesama tanpa syarat. Ini jalan yang paling sulit karena menuntut dari kita untuk merelakan banyak hal. Mungkin karena jalan ini sulit maka Yesus menyebutnya sebagi pintu yang sempit; sempit karena kita harus berjuang masuk dan harus berhadapan dengan begitu banyak orang yang 'kembali', 'pulang' karena tidak sanggup mengikuti jalan ini. Banyak orang, dan mungkin anda yang membaca renungan ini, tidak rela jika harus meninggalkan banyak hal; tidak rela kalau tidak dilayani; tidak rela kalau kesenangan, kuasa dan kemudahan lenyap dari genggaman kita. Ini jalan sempit. Pantas jika Yesus meminta kita berjuang.
Saudara-saudariku, mari kita berjuang, melawan arus zaman dan massa yang mendewakan kuasa dan kesenangan. Arus itu kuat. Marilah kita melawannya dengan dayung dan perahu kesetiaan, ketekunan, iman, harapan dan yang paling penting adalah cinta kasih. Mencintai seperti Yesus adalah jalan sempurna menjumpai Allah. Tidak cukup berbuat baik, tidak cukup menjadi orang baik.Kita mesti menjadi seperti Yesus agar Dia jangan sampai ketika bertemu dengan kita berkata "Aku tidak mengenal kamu"!
Mari saling mendoakan untuk melalui jalan sempit itu.
salam,
ronald,s.x.


Sepertinya sudah menjadi 'hukum' atau atauran tak tertulis untuk meletakkan beberapa lembar uang di atas meja setelah kita meninggalkan sebuah restoran. Uang itu adalah tip bagi pelayan yang menyiapkan meja. Bayangkan betapa repotnya kita, jika di restoran kita harus menyediakan sendiri meja. Tentu, waktu yang mestinya kita pakai untuk bercengkerama dengan keluarga atau rekan kita, habis untuk mencari menu, menghubungi koki lalu menunggu apakah pesanan kita jadi dibuat atau tidak.
saya kira di balik kebiasaan memberi 'tip' bagi pelayan, ada satu keutamaan yang patut terus dipelihara - meski mungkin makin kurang disadari - yakni penghargaan terhadap pelayan serta tugas pelayanan itu sendiri. Sederhananya, pelayan adalah pekerjaan yang membuat orang bahagia, betah, membantu orang lebih menikmati sesuatu entah itu makanan, jasa dan lain sebagainya.
Yesus hari ini, setelah mengeritik cara dan sikap hidup ahli-ahli taurat, mengajarkan arti penting pelayanan. "Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu". (Mat.23:11).
Menjadi terbesar dan menjadi pelayan adalah dua pilihan yang kelihatannya bertolak belakang. Biasanya, kalau menjadi orang besar, orang berada, orang kaya dan terhormat, kita ingin untuk dilayani, ya karena kita penting. Semua kita, tanpa terkecuali, punya keinginan dan kecenderungan untuk menjadi besar, menjadi yang utama. Pendeknya, kita pingin dicintai dan diterima. Dan ini normal.Menjadi tidak normal kalau keingianan itu berlebihan yang ungkapannya bisa dalam kecenderungan untuk menguasai, menuntut atau memaksa dan lupa bahwa orang lain juga butuh diperlakukan sama; orang lain juga butuh dilayani dan dicintai. Maka, menjadi besar pada dasarnya disertai kesadaran untuk menjadi kecil, menjadi orang yang siap melayani dan mencintai sesama dengan seluruh pelayanan kita.
Lalu bagaimana mungkin orang yang melayani disebut 'terbesar'; bahkan lebih besar dari orang yang dilayaninya sendiri? Tentu, Yesus tidak memaksudkan bahwa ajudan presiden lebih besar dari pada presidenitu sendiri atau seorang satpam bank BNI lebih besar dari direkturnya. Yesus tidak bermaksud demikian meski orang-orang itu pekerjaannya adalah pelayanan.Hati-hati.., tidak setiap pekerjaan melayani sungguh-sungguh merupakan pelayanan. Yang dimaksudkan Yesus dengan pelayan adalah orang yang dengan sengaja memilih untuk merelakan waktu, pekerjaan, tenaga dan seluruh hidupnya demi orang lain tanpa syarat (tanpa mau dapat balasan, bukan karena itu kewajiban), tapi orang yang melakukannya karena dia mengalami dicintai dan dikasihi Allah. Maka masuk akal kiranya mengatakan bahwa orang yang melayani dengan cinta sejati adalah orang yang terbesar karena hidupnya tidak 'sempit', 'kecil' akibat terlalu memikirkan diri sendiri; terbesar karena ia membiarkan Allah dan orang lain memperkaya hidup-Nya. 'Kantong' hidupnya sepertinya siap menampung semua rahmat dan kebaikan yang dia terima dari tindakannya mencintai orang lain.
Lebih lagi, kebesaran kita bukanlah semata-mata usaha kita tapi lebih merupakan anugerah atau rahmat istimewa dari Allah. Anugerah itu adalah kebenaran diri kita sebagai anak-anak-Nya. Saya percaya, setiap orang diberi karunia yang sama banyak, meski bentuknya berbeda beda. Tuhan itu adil, Dia memberi kepada semua kita anugerah yang sama. Beethoven yang dikaruniai kejeniusan mendapat anugerah yang sama dengan anda, meski anda tidak dapat bermain musik seperti dia. Anda punya kemampuan lain, misalnya selalu menghibur orang dengan obrolan dan canda anda. Jangan pernah merasa kuatir akan kemampuan anda. Berhentilah membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Pikirkanlah sekarang apa yang anda punyai, apa pun itu. Syukurilah dan mulailah melayani orang lain dengan anugerah itu. Kita hanya bisa mencintai karena kita sudah terlebih dahulu dicintai oleh Allah; bukan hanya dengan mengaruniakan hidup beserta segala kemampuan kita, tapi Dia memberikan anak-Nya sendiri yakni Yesus Kristus. Maka, jadilah pelayan Tuhan. Dan biarkanlah hidup anda terus menjadi kantong yang besar, yang tahan lama menerima anugerah dan rahmat Allah karena anda sudah melayani!
Ronald,s.x.


Bacaan: Yohanes 1:45-51
Hari ini Gereja memperingati St. Bartolomeus. Dia adalah satu di antara murid Yesus di luar bilangan keduabelas rasul yang mengenal dan mengalami Yesus. Sejatinya, dia adalah orang Yahudi, ahli taurat lagi. Saat Yesus muncul dan menimbulkan gerakan baru dalam yudaisme pada waktu itu, Bartolomeus yang lebih dikenal sebagai Natanael Bar-Tolmai, tidak mau ikut arus. Dia tidak mau asal percaya saja sebelum membuktikan apa benar Yesus itu seperti yang diceritkan dan dielu-elukan banyak orang, apa benar dia pantas dipercaya. Maka, ketika Filipus mengabarkan bahwa ia telah berjumpa dengan Mesias, Natanael dengan ragu bertanya "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Keraguannya sebenarnya didasari kerinduan untuk sungguh-sungguh menjumpai Yesus. Oleh karena itu, tidak heran, jika dia langsung mengikuti ajakan Filipus " Mari dan lihatlah!.
Perjumpaannya dengan Yesus sungguh mengesankan. Natanael tidak menyangka bahwa orang yang semula diragukannya justru mengenalnya lebih banyak. " Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara."Bukan itu saja, Yesus memuji dia sebagai orang yang aseli, tidak palsu. Kelebihan pribadi Natanael bukan hanya terletak pada sikapnya yang tidak ikut arus, tapi pada kerinduannya untuk mencari wajah Allah yang otentik. Itulah kiranya pesan utama tokoh Bartolomeus yang kita peringati hari ini.
Beberapa waktu lalu muncul berita tentang penampakan ini atau penampakan itu. Tidak sedikit orang yang percaya begitu saja walaupun berita itu hanya isapan jempol. Kita memang tidak sedang meragukan peristiwa ajaib seperti itu, tapi sebenarnya yang lebih penting adalah memelihara terus kerinduan untuk mencari wajah Alah yang otentik dalam perjuangan hidup kita. Wajah Allah yang otentik itu adalah Kristus sendiri. Di salib, kita tahu siapa Allah itu yakni Dia yang mencintai dan mengasihi kita tanpa syarat. Otentisitas wajah Yesus kita temukan dalam pengalaman sehari-hari jika kita mau selalu membuka mata dan telinga;mata untuk melihat kebutuhan-kebutuhan mereka yang tertindas, telinga dan kehendak yang kuat untuk membedakan mana kehendak Tuhan dan mana rencana pribadi kita. Anda dan saya selalu dalam perjuangan untuk terus mencari dan memuliakan Dia dalam segala.
Peliharalah Terus Kerinduan Anda Ini Setiap Hari.


Salam,
ronald,s.x.


Bacaan Injil "Perumpamaan tentang perjamuan kawin" Lukas 22:1-14

Hidup kita akrab dengan pesta. Entah apa rasanya dan apa jadinya, jika pesta tidak pernah menjadi tradisi masyarakat manusia? Orang-orang dari setiap kebudayaan memiliki tradisi yang khas untuk berpesta. Yang sama dalam setiap pesta adalah pesta selalu merupakan pernyataan kegembiraan secara publik, kegembiraan yang menentukan dalam hidup seseorang; kegembiraan karena kelahiran anak baru,kegembiraan karena diresmikannya bahtera rumah tangga yang baru, kegembiraan karena selamat dari malapetaka, dan seterusnya dan seterusnya. Si tuan pesta mengungakpkan kegembiraan itu dengan mengundang rekan-rekan dekatnya, keluarga dan para sahabat untuk ikut ambil bagian dalam kegembiraan itu. Maka, menghadiri pesta berarti berpartisipasi, ikut serta dalam hidup si tuan pesta; bukan hanya kegembiraannya tapi seluruh pengalaman yang sudah dan akan dialaminya. Pesta dengan demikian, adalah perayaan akan hubungan komuniter manusia yang satu dengan yang lainnya. Dengan ikut pesta, kita secara tak terkatakan ingin menyampaikan bahwa " kita ingin mengecapi hidup si tuan pesta sepenuhnya dalam pengalaman susah dan senang".
Yesus hari ini bicara tentang pesta untuk mengajarkan makna Kerajaan Allah. Allah sendiri,si tuan pesta, mengundang semua manusia, kita, anda, untuk masuk mengecapi kekayaan dan kelimpahan hidup-Nya. Kerajaan Allah tidak lain adalah hidup Allah sendiri yang dianugerahkan secara cuma-cuma pada kita. Ia telah mengorbankan miliknya untuk pesta itu, yakni anak-Nya sendiri. Yesus adalah anugerah hidup Allah bagi kita. Yesus dianugerahkan untuk semua orang. Karena anugerah itu cuma-cuma, setiap orang pun bebas untuk menerima atau menolaknya.
Kalau anda ditawarkan sesuatu, dan jika anda menghendakinya, tentu anda mengulurkan tangan untuk menerimanya. Akan tetapi, tidak setiap uluran tangan mengungkapkan sikap menerima yang otentik. Anda,misalnya, dikatan tidak sopan jika menerima pemberian seseorang dengan tangan kiri; atau tidak menghormati si pemberi jika anda menerimanya dalam keadaan tangan yang kotor. Saya hanya mau menunjukkan bahwa ini sama dengan apa yang dimaksudkan Yesus bahwa setiap orang yang mau menerima hidup Allah dalam dirinya mesti punya dress code yang tepat. Dress code itu apa menurut anda? Saya kira, dress codenya adalah keterbukaan hati, kegembiraan, serta kepercayaan pada-Nya. Hati yang terbuka adalah hati yang siap selalu setiap hari untuk bekerjasama dengan Yesus. Setiap hari saya selalu doa " Tuhan, terima kasih atas panggilan saya ini, semoga saya melewati hari ini bersama-mu dengan setia. Hati yang gembira dan percaya adalah hati yang hanya memberi tempat bagi Yesus dan bukan kekuatiran tentang makanan, relasi , masa depan, uang dan hal-hal lain. Sudahkah anda punya dresscode ini?

Blogger Template by Blogcrowds